Kegiatan cuci otak atau brainwashing akhir-akhir ini menjadi pembahasan utama di berbagai media. Banyak orang yang terkena doktin. Akibatnya, mereka melakukan hal-hal yang diluar kebiasaan. Bagaimana sebenarnya mekanisme dan sejarah kegiatan yang juga kerap disebut mind controlling itu?
Berdasarkan webster’s new collegiate dictionary, brainwashing merupakan penerjemahan dari terminologi tiongkok yang mengindikasikan pemaksaan doktrin oleh seseorang kepada pihak-pihak lain untuk tujuan-tujuan tertentu. Dengan begitu, orang yang terpengaruh tersebut akan mengalami perubahan pemikiran dalam dirinya. Biasanya, perubahan itu meliputi di bidang militer, sosial, politik atau agama.
Istilah brainwashing kali pertama muncul pada 1950. Saat itu perang antara Korea Utara dan Korea Selatan sedang berlangsung. Korea Utara didukung Tiongkok, sedangkan Korea Selatan didukung Amerika Serikat dan PBB. Para tentara Amerika Serikat yang ditahan Korea Utara mengalami pengubahan sikap dalam mendukung negaranya. Mereka berbalik membela Korea Utara dan membuat Amerika Serikat heran. Akhirnya, muncul istilah brainwashing yang digunakan Amerika Serikat untuk menjelaskan “anomali”tersebut.
Pada perang korea itu, metode cuci otak yang digunakan adalah pemberian reward and punishment. Tahanan perang akan memperoleh siksaan fisik apabila tidak patuh atau melakukan kesalahan. Siksaan fisik inilah yang mempermudah masuknya pemikiran baru yang bertentangan dengan pemikiran sebelumnya.
Menurut praktisi hipnoterapi, Agung Saputra: Lemahnya fisik seseorang akan mempermudah jalan masuknya ide baru ke dalam mental. Namun, pada orang yang mentalnya sudah kokoh dan berpendirian kuat pada suatu hal tertentu, selemah apapun fisiknya, mentalnya tidak akan terpengaruh.
Philip G. Zimbardo PhD dalam tulisannya, what messages are behind today’s cults?, mencontohkan tragedi bunuh diri masal pada aliran Heaven’s Gate pada 26 maret 1997. Pada tragedi itu, para penganut aliran ini meyakini komet Hale-Blopp yang saat itu melintasi bumi membawa mereka ke tingkat evolusi lebih tinggi. Berdasarkan investigasi, Philip pun punya kesimpulan penting. Yakni, tidak ada orang yang secara suka rela menyerahkan diri kepada persembahan seperti Heaven’s Gate. Mereka melakukan itu karena sudah terjadi doktrinasi terhadap diri mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
nama:
opini/pendapat: